DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PERLINDUNGAN ANAK DAN PENGENDALIAN PENDUDUK

Daerah Istimewa Yogyakarta

Artikel

Peringatan HAN di Jogja Bay Waterpark

Yogyakarta (09/08/19), DP3AP2 DIY – Puncak Acara Peringatan Hari Anak Nasional 2019 di JogjaBay Waterpark dilaksanakan pada 8 Agustus 2019.

Kepala DP3AP2 DIY dr RA. Arida Oetami, M.Kes, mengatakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap tanggal 23 Juli dan di semua provinsi dan kabupaten kota Hari Anak Nasional juga diperingati dengan berbagai kegiatan yang mengingatkan kembali pada pentingnya pemenuhan hak anak dan perlindungan anak. "Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Peringatan Hari Anak Nasional juga diperingati dengan serangkaian Kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga pemerintah, LSM, dan dunia usaha baik di tingkat kabupaten/kota maupun di provinsi,"

Dengan mengangkat tema Hamemayu Sesanti Ajining Pertiwi, Pemda DIY memiliki semangat untuk membangun identitas dan karakter anak untuk berbangsa dan bertanah air Indonesia.

Konsep puncak acara Peringatan HAN DIY 2019 adalah bermain bersama dan inklusif di mana akan ditampilkan aksi kreativitas anak termasuk di antaranya adalah anak-anak penyandang disabilitas dari berbagai sekolah dan sanggar anak di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejumlah kegiatan telah diselenggarakan dari nonton film bareng, talkshow TV, kegiatan visitasi bersejarah, upacara di setiap sekolah, dan kunjungan kepada Lembaga Perlindungan Khusus Anak Kelas II untuk mendukung peringatan Hari Anak Nasional DIY ini.

Adapun rangkaian acara puncak peringatan Hari Anak di Jogja Bay Waterpark kemarin yaitu Pelantikan Forum Anak Daerah DIY, Penggalangan Komitmen, dan Launching Tesaga (Telepon Sahabat Anak dan Keluarga)


Bagi Bunga di Malioboro




Yogyakarta (
24/07/19), DP3AP2 DIY - Hanya segelintir kalangan yang tahu bahwa setiap 23 Juli diperingati Hari Anak Nasional, bahkan kadangkala orangtua pun banyak yang lupa atau tidak tahu kalau 23 Juli merupakan Hari Anak Nasional. Bagi anak-anak, Hari Anak Nasional tentu sangat familiar. Contohnya setiap 23 Juli mereka mengadakan upacara di Lapangan Sekolah.

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY pada Selasa, 23 Juli 2019 turun ke jalan guna membagikan 1000 bunga untuk memperingati Hari Anak Nasional. Pembagian bunga dilakukan di Kawasan Malioboro mulai 08.30 WIB

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa setiap 23 Juli merupakan peringatan Hari Anak Nasional dan mengajak masyarakat dapat bersama-sama berpartisipasi secara aktif untuk meningkatkan kepedulian dalam menghormati, menghargai, dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi, dan memastikan segala hal yang terbaik untuk anak dalam pertumbuhan dan pekembangannya.

Selain itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY melalui Hari Anak Nasional ini memberikan sedikit informasi mengenai Layanan TeSA129 (Telepon Sahabat Anak) yang dapat diakses oleh masyarakat khususnya anak-anak.

Dengan semangat Hari Anak Nasional dapat menjadikan anak-anak Indonesia menjadi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air.(JNS)

Upaya Pengentasan Kemiskinan melalui Program G2R Tetrapreneur

Yogyakarta, BPPM - Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) bersama UGM menyelenggarakan ‘Penawaran sebagai Mitra Produk Unggulan Unit Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur’ di Ruang Rapat Nyi Ageng Sareng 3, Kantor BPPM DIY. Acara yang berlangsung Selasa (14/8) itu merupakan tahap kedua dari program G2R Tetrapeneur yang dicanangkan BPPM dengan bantuan dari Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rika Fatimah, P.L., S.T., M.Sc., Ph.D.

Program tersebut merupakan konsep dari Rika yang diadaptasi dari Program Saemaul Undong yang diinisiasi oleh Pemerintah Korea Selatan. Ia pernah diminta oleh Fakultas Filsafat untuk meneliti sebab kegagalan penerapan Saemaul Undong untuk memajukan perekonomian daerah pedesaan di Indonesia.

Kala itu, ia melihat kesamaan konsep itu dengan konsep gotong royong yang sudah dikenal di Indonesia. Sejak saat itu, Rika berpikir kenapa Indonesia perlu meniru konsep yang sebenarnya sudah dikenalnya dari negara lain.

Hal lain yang mendorong Rika adalah hadirnya fenomena global village, ketika dunia dapat diakses dengan sederhana seperti desa dengan perkembangan teknologi terkini. Ia melihat fenomena ini bukanlah sebuah ancaman, melainkan peluang. “Polanya mudah, buat saja sesuatu yang unik khas dari desa maka akan laku dengan sendirinya,” tuturnya.

Sebenarnya, selain motif tadi, Rika mempunyai cita-cita tersendiri mengentaskan kemiskinan di Indonesia. “Oleh  karena  itu, saya terpikir untuk menciptakan konsep G2R Tentrapreneur,”ungkapnya.

Konsep ini merupakan sebuah gerakan inovasi desa berbasis empat pilar (tetra). Tetra 1 yaitu rantai pasokan bisnis mulai dari hulu ke hilir. Selanjutnya, Tetra 2 adalah ketersediaan pasar non-competition based hingga competition based sebagai sarana pertukaran nilai produk.

Rita menyebutkan tahap vital untuk keberlanjutan program ini ada di Tetra 2. “Pada tahap Tetra 1 warga sudah pintar dalam menyediakan produknya, namun hal itu akan sia-sia tanpa pasar,” ujarnya. Ia juga menambahkan kegagalan di Tetra 2 akan menyebabkan program dmulai lagi dari awal.

Jika Tetra 2 sudah terlewati maka baru bisa melangkah ke Tetra 3, yaitu peningkatan kualitas produk melalui SDM yang berkualitas pula, sistem yang terkoordinasi, serta pengembangan diri. Puncaknya pada Tetra 4, yakni terbentuknya nilai dan aspirasi merek

Sejauh ini, Program G2R Tentrapreneur ini sudah diterapkan pada dua desa, yakni Girirejo dan Wukirsari, Imogiri, Bantul. Kedua desa sudah menyelesaikan Tentra 1 dengan dua hasil produk dari masing-masing desa.

Desa Girirejo telah berhasil memproduksi ‘Wedang Uwuh Arum Sari’. Produk ini berbeda dengan wedang uwuh pada umumnya, dengan penambahan tanaman khas desa, yakni Kapulogo. Produk lain yang telah diproduksi yakni ‘Ceriping Pisang’. Hal yang menarik dari cemilan ini adalah semua bahan dibudidayakan secara organik, tanpa bahan kimia satupun selama pengolahannya. Dengan demikian, cemilan ini aman dan sehat untuk dikonsumsi.

 

Kemudian, Desa Wukirsari juga tidak kalah dengan produk ‘Criping Gadung’. Konsep yang dibawa dari cemilan ini sama dengan ‘Ceriping Pisang’ Girirejo, yakni diproduksi secara organik. Produk lain yang ditawarkan dari desa ini berbeda dengan produk-produk sebelumnya, yakni ‘Edu Homestay’. Jika sebelumnya berupa makanan dan minuman, ‘Edu Homestay’ berupa jasa penginapan dengan paket edukasi, dari membatik, outbond¸ religi dan budaya setempat, serta kerajinan tatah sungging.

Kedua desa tersebut, menurut Rika, sudah lulus dalam Tentra 1. Hal itu karena masing-masing sudah dapat menyediakan produk bisnis dengan mengintregasikan  gotong royong dari warga setempat. Sekarang, lanjut Rika, saatnya mereka memasuki Tentra 2. “Oleh karenanya, acara ini diadakan untuk menjalin lingkaran kemitraan untuk memasarkan produk mereka,” ungkapnya.

Hasilnya, beberapa instansi sudah memberikan kesediaannya untuk menjadi mitra dalam program ini.  Instansi tersebut seperti Harley Davidson Club Indonesia Pengcab. Bantul, Yayasan Silaturahmi & Sosial Cendekia, Badan Koordinasi Organisasi Wanita DIY, Jogja City Mall, Hotel Royal Ambarukmo, Pamela Grup, Asossiasi Agen Tour dan Travel Indonesia, serta Parsley.

Rika menuturkan bahwa program ini juga sudah diakui secara internasional. Hal itu dibuktikan dengan undangan yang diterimanya untuk mempresentasikan progam ini dalam ‘2018 World Local Government Culture Tourism Festival – Saemaul International Forum’ di Korea Selatan pada September mendatang.

“Semoga program ini dapat menuai hasil terbaiknya. Dengan demikian, perekonomian masyarakat pedesaan di Indonesia bisa terangkat secara mandiri oleh masyarakatnya sendiri,” harapnya. (Humas UGM/Hakam)

 

Sumber : ugm.ac.id

TESA

TELEPON SAHABAT ANAK 129

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

 

 

More Articles...