Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat

Daerah Istimewa Yogyakarta

Relasi Pasutri yang Timpang Rentan KDRT

KOMPAS.com— Konsep istri taat suami tidak merefleksikan relasi seimbang dalam rumah tangga, tetapi justru menunjukkan relasi yang timpang. Relasi yang dibutuhkan dalam hubungan pernikahan adalah relasi yang berimbang, tidak subordinatif, dan tidak merugikan salah satu pihak.

KH Husein Muhammad, Komisioner Komnas Perempuan, memaparkan relasi yang timpang berpotensi pada terjadinya kekerasan terhadap perempuan atau istri. Fakta-fakta sosial memperlihatkan bahwa banyak perempuan menjadi korban kekerasan laki-laki atau suami.

"Komnas Perempuan setiap tahun memperoleh laporan dari berbagai daerah tentang situasi ini. Tahun 2009, dilaporkan 143.500-an perempuan korban kekerasan berbasis jender ini. Sebanyak 95 persen terjadi di dalam rumah, dengan pelaku suaminya sendiri. Kekerasan mengambil berbagai bentuk, fisik, psikis, penelantaran ekonomi dan seksual. Poligami adalah bentuk nyata dari kekuasaan sekaligus kekerasan laki-laki atau suami atas perempuan atau istri," ujarnya kepada Kompas Female.

Taat yang disalahartikan
Ketua Umum Gerakan Wanita Sejahtera Ir Giwo Rubianto MPd menyampaikan pandangannya, prinsip taat yang disalahartikan justru berpotensi menimbulkan kekerasan.

"Selama ini banyak kasus perempuan dipaksa taat tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Hal ini tidak benar. Baik suami maupun istri perlu membaca UU PKDRT agar tidak terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga. Prinsip keseimbangan antara suami dan istri sebenarnya telah dimandatkan oleh Undang-Undang Perkawinan," ujarnya melalui  surat elektronik (surel) kepada Kompas Female.

Dihubungi secara terpisah, KH Husein menjelaskan tujuan perkawinan (dalam Islam) adalah menciptakan kehidupan saling berbagi cinta, kasih, ketenangan, dan kebahagiaan antara suami dan istri, serta keluarganya. Oleh karena itu, keduanya dituntut untuk saling melayani dan membagi kegembiraan, serta saling menghormati dan menghargai. Suami dan istri juga bisa berbagi tugas di dalam rumah tangga sesuai dengan kemampuan dan kesiapan masing-masing. Baik suami maupun istri mempunyai kelemahan, dan saling membutuhkan.

"Bagi saya, perempuan adalah sama dan setara dengan laki-laki. Perempuan memiliki segala potensi kemanusiaan, sebagaimana dimiliki laki-laki. Perempuan memiliki tingkat intelektualitas dan kecerdasan yang relatif sama dengan laki-laki. Tidak sedikit perempuan mengungguli kecerdasan laki-laki," ucapnya. KH Husein menambahkan, "Perempuan mampu memimpin rumah tangga, komunitas, dan negara. Secara fisik perempuan acapkali lebih kuat dari laki-laki. Mereka mampu bekerja dari pagi sampai malam. Mereka acap dibebani beban ganda, mengurus domestik, masak, mengasuh, mendidik, dan melayani suami, juga bekerja di luar rumah," kata KH Husein, penulis sejumlah buku, seperti Fiqh Perempuan; Refleksi Atas Wacana Agama dan Gender, dan Islam Agama Ramah Perempuan.